Aku menatap langit malam
waktu itu. Saat pertama kali aku bisa melihat wajahmu di bawah terang sinar
bulan. INDAH. Satu kata itu yg mungkin mewakilkan apa yg sudah tuhan gariskan
untukmu. Kamu tersenyum, menatapku sejenak, menyelesaikan kalimatmu ,mengalihkan
pandangan, menatapku lagi, dan kau alihkan pandangan itu lagi. Aku hanya bisa
tersenyum tipis menatapmu waktu itu.
Malam kedua, di bawah terang bulan
yang sama. Di tengah hiruk pikuk kota Surabaya. 13 agustus 2014. Selasa. kamu membawaku pergi jauh dari kesibukan
masa lalu yg sempat membuatku jatuh. Kamu mengajariku arti sebuah pelajaran
hidup yg kadang aku tak pernah pikirkan sama sekali. Kamu bilang “sudahhlah, itu masa lalu” kata mu
sambil menggenggam erat tangan ku. Hangat. ”sekarang masa depan itu ada di kamu” . aku
tersenyum, menunduk malu. Merasakan desiran hangat yg mengalir lewat pembuluh2
darah nadiku menuju hati.
Sampai jarum jam menunjukan pukul 3
pagi. Tak terasa, sudah satu jam lebih kamu menggenggam erat jemari ini. Meyakinkan
aku bahwa aku adalah satu satu nya wanita yg kamu cinta. Sambil sesekali di
sela sela kamu bercerita tentang hidupmu aku menatapmu pelan pelan. Dengan
sangat hati hati. Karena aku tak mau kamu tau bahwa aku sebenarnya sedang tak
percaya. Bahwa saat itu aku tengah berada di sisi malaikat yg lupa tidak
membawa sayapnya ke dunia. KAMU.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar